17.9.09

EC 120 b Colibri Performance

General characteristics

* Crew: 1 or 2 pilots
* Capacity: 3-4 passengers
* Length: 9.6 m (31 ft 5 in)
* Rotor diameter: 10.0 m (32 ft 8 in)
* Height: 3.4 m (11 ft 2 in)
* Empty weight: 991 kg (2,185 lb)
* Useful load: 724 kg (1,596 lb)
* Max takeoff weight: 1,715 kg (3,781 lb)
* Powerplant: 1× Turbomeca Arrius 2F turboshaft, 376 kW (504 shp)


Performance

* Never exceed speed: 278 km/h (150 knots, 172 mph)
* Cruise speed: 223 km/h (120 knots, 138 mph)
* Range: 710 km (383 nm, 440 mi)
* Service ceiling 5,182 m (17,000 ft)
* Rate of climb: 5.84 m/s (1,150 ft/min)


Avionics
Vehicle and Engine Multifunction Display (VEMD) with First Limit Indicator (FLI) fitted as standard.
Selengkapnya...

EC 120 B Colibri Characteristic

The Colibri EC 120 B is a light, multi-purpose, single-engine helicopter that can carry up to 4 passengers in addition to the pilot. The design of the cabin/luggage hold assembly makes it particularly suitable for widely different types of civilian and parapublic missions. Very silent (6.6 dB below the ICAO limit) and with a very wide cabin featuring excellent visibility, the Colibri's flight comfort is unique in its category. Its integrated advanced technology includes: articulated "SpheriflexT" type of rotor head, ergonomic and modern instrument panel including Vehicle and Engine Multifunction Display, new generation of "Fenestron" tail rotor, crashworthy seats and fuel system. Fitted with a Turbomeca ARRIUS 2F turbine engine the EC 120B is particularly suited for training and light utility military missions.


Maximum Weight
1,715 kg / 3,780 lb
1,800 kg / 3,968 lb (with external load)
Useful Load
750 kg / 1,653 lb
Capacity
1 pilot + 4 passengers or
700 kg / 1,543 lb with sling
Power Plant
1 Turbomeca ARRIUS 2F
Maximum take-off power: 376 KW / 504 shp
Fast Cruise Speed
223 km/h - 120 kt (at max. weight)
Maximum Range710 km / 383 nm (take-off at max. weight)


UTILITY

* Fire fighting, forestry, mining exploration, seismic, magnetometer (bird towing)
* Aerial construction, construction support,
* Sightseeing tours, golf tours, air taxi
* Power line patrol, pipeline patrol, environmental patrol
* Training, Electronic New Gathering, movie making, traffic patrol

PARAPUBLIC AND POLICE MISSIONS

* Forest protection, coast guard applications
* Police patrol, border patrol, command & control, drug eradication, drug interdiction, SWAT, highway patrol, SAR

CORPORATE / PRIVATE

Personal transportation for business, corporate transportation, recreational use, yacht tender Personal transportation for business, corporate transportation, recreational use, yacht tender
Selengkapnya...

16.9.09

KEKUATAN HELIKOPTER DI INDONESIA

Pesawat peninggalan Belanda maupun Jepang adalah pesawat tempur dan angkut Fixed wing. Belum ada pesawat helikoter yang bisa di operasionalkan oleh Indonesia, sehingga pada tahun 1950-an oleh pimpinan TNI AU terpikirkan untuk merintis

Sebelum terbentuk skadron helikopter yang besar TNI AU tahun 1953 mendirikan skadron percobaan helikopter. Pesawat helikopter yang pertama bertengger di skadron percobaan itu adalah pesawat helikopter jenis Hiller-360 yang didatangkan dari Amerika Serikat. Oleh TNI AU pesawat itu diberikan register H-101.Sebagai penerbang pertama adalah Komodor Muda Udara Wiweko Supono, Beliau merupakan penerbang helikopter lulusan Sekolah Penerbang Amerika Serikat pada akhir tahun 1950.


Untuk mengembangkan sayap skadron percobaan itu Komodor Muda Udara Wiweko Supono membina prajurit TNI AU sebagai penerbang termasuk teknik pesawat terbang, yang akhirnya muncul sekolah penerbang lanjutan di Pangkalan Udara Andir (sekarang Lanud Husein Sastranegara, Bandung) dan di Pangkalan Udara Kalijati (saat ini berubah Lanud Suryadarma).

Kemajuan demi kemajuan berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Meski menyandang skadron percobaan, namun telah memiliki banyak pesawat di antaranya jenis helikopter Hiller-360, Hiller-12B, Bell-47G-2, Trooper/SM-1. Peristiwa yang membanggakan bahwa pada tahun 1959 TNI AU dapat mendatangkan 30 unit helikopter Mi-4, tahun 1960 helikopter Bell-47J Ranger, selanjutnya helikopter S-58T Sikorsky. Perkembangan terus dilaksanakan dan penambahan pesawat terus didatangkan untuk meningkatkan pelayanan terutama bagi VIP dan kepresidenan.

Masih banyak lagi perubahan-perubahan jenis pesawat untuk kelangsungan skadron udara helikopter serta menjalankan misi tugas sehari-hari untuk tugas pokok TNI Angkatan Udara dan TNI pada umumnya.

Dengan peningkatan dan profesional dalam bidang tugas akhirnya skadron udara percobaan berubah menjadi Skadron 6 Helikopter bermarkas di Pangkalan Udara Andir, Bandung dan Komandannya dijabat oleh Mayor Udara R. Soemarsono.

Waktu terus berjalan akhirnya pada bulan Maret 1963 Skadron Udara Helikopter dipindahkan dari Bandung menuju ke Semplak Bogor yang sekarang Lanud Atang Sendjaja.

Dari tuntutan suatu organisasi akhirnya 25 Mei 1965 Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani meresmikan berdirinya skadron-skadron udara yang berada di bawah Wing Ops 004 dengan komandannya Letnan Kolonel Pnb Suwoto Sukendar.


Wing Ops 004 membawahi Skadron 6, 7 dan 8, masing-masing Skadron 6 mengoperasikan pesawat helikopter Mi-4, Skadron 7 mengoperasikan pesawat helikopter Mi-4, SM-1, Bell, dan Skadron 8 khusus mengoperasikan helikopter Mi-6.

Sesuai tugas yang dibebankannya, Skadron Helikopter melaksanakan Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Saat ini Skadron Udara 6 mengoperasikan pesawat Helikopter Twin Pac S-58T (grounded tahun 2008)dan Helikopter Super Puma NAS-332.

Skadron Udara 7 bermarkas di Lanud Suryadharma, Kalijati Subang mengoperasikan pesawat Helikopter Bell-47 G Soloy, Bell-204 B Inroquois (grounded), dan EC-120B Colibri.

Skadron Udara 8 mengoperasikan pesawat Helikopter SA-330 Puma.
Selengkapnya...